Masyarakat Indonesia panik dengan pesan berantai di media sosial tentang tsunami dengan ketinggian 20 m akan menghantam P, Jawa.   Pesan salah tafsir tersebut apabila dibiarkan dapat meresahkan masyarakat luas, sehingga Menteri Riset dan Teknologi perlu memberikan keterangan publik bersama penulis utama artikel yang terbit di jurnal internasional  bergengsi  “Nature”  edisi  September  2020,  Prof.  Sri  Widiantoro  (ITB) didampingi ahli gempa bumi, Dr. Danny Hilman (LIPI) pada tanggal 30 September 2020.

Perlu diketahui ketinggian 20 m adalah hasil simulasi komputer terburuk dari berbagai skenario apabila terjadi “megatrhrust” di cincin api (ring of fire) selatan Jawa yang menimbulkan secara bersama longsoron material sebagai akumulasi ratusan tahun pada kemiringan lantai samudera di sisi barat perairan selatan Jawa dan 12 m untuk sisi timur, dengan rata-rata maksimum sebesar 4,5 m.

Apakah  pesisir  Sulawesi  Barat  (sulbar)  memiliki  potensi  serupa  dengan  perairan Selatan Jawa tersebut?. Tidak dapat disangkal bahwa wilayah sulbar memiliki sejarah gempa bumi dengan densitas tinggi menutupi hampir seluruh 6 kabupaten dengan catatan 9 kejadian tsunami di Selat Makassar dan peluang sebesar 8,6%. dihitung sejak 1629 (Sumber winlTDB,2017). Data tersebut harus diperbaharui dengan kejadian tsunami akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,4 di wilayah Palu pada tgl 28 September 2018..

Melihat peluang kejadian tsunami hanya mendekati 10% dalam kurun waktu gempa 389 tahun dapat menimbulkan salah tafsir, karena penyebab tsunami bukan hanya gempa, tetapi banyak faktor, seperti: longsor bawah laut akibat kemiringan landas kontinen (sisi sulbar sebesar > 4%  dan sisi Kalimantan 2 – 4%). Bahkan BBC News edisi 23 April 2020 melaporkan kajian peneliti Inggris potensi terjadinya tsunami secara masif akibat endapan material raksasa di muara sungai delta mahakam dan sekitarnya yang dapat menggenangi Teluk Balikpapan dan lokasi ibu kota negara baru di Kalimantan Timur..

Secara spesifik Selat Makassar dikelilingi oleh patahan yang menjadi sumber gempa dan memiliki potensi tsunami, yaitu: Megathrust Sulawesi Utara (M 8,5), Tarakan (M 7,4), Palukoro  – Makassar (M 7,1), Utara Selat Makassar (M 7,3), Pusat Selat Makassar (M 7,3) dan  Mamuju  (M  7).  Menurut  perhitungan  para  ahli,  potensi  bencana  tsunami  di  Selat Makassar dalam kategori rendah (0 – 1 m) sampai sedang (1 – 3 m), namun khusus pesisir sulbar perlu mendapat perhatian serius dari Badan Penenanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Pemprov  Sulbar,  mengingat  lokasi  patahan  Mamuju  dan  Pusat  Selat  Makassar berada sangat dekat. Demikian juga potensi lngsor bawah laut dan gempa bumi di daratan yang memiliki densitas tinggi.

Upaya apa yang harus dilakukan untuk mitigasi bencana tsunami tersebut?. Penulis mengusulkan integrasi hutan bakau (mangrove) yang tersebar di sepanjang pesisir sulbar (menurut data satelit Sentinel-2 terbaru memiliki luas 11041 Ha) dan budidaya tambak berkelanjutan (Silvo Fishery). Artinya 1 Ha lahan budidaya tambak intensif disandingkan dengan 3 Ha hutan bakau akan menjadi program berbasis ekonomi kerakyatan yang memiliki dampak langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di tengah pandemi covid-19 yang membuat laju pertumbuhan ekonomi sulbar -0,7 pada triwulan ke-2 2020.

Intensifikasi program yang disebut Silvo Fisheri ini secara tidak langsung memberikan fungsi pada hutan bakau sebagai sabuk pengaman, dimana luasan 100 m2  yang ditanami 30 buah pohon bakau akan meredam energi gelombang tsunami sebanyak 80 – 90%. Sungguh sangat berarti dalam upaya mitigasi bencana tsunami di pesisir sulbar.

By Dinas Kelautan dan Perikanan

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Barat

Follow by Email
YouTube
YouTube
Instagram